Edukasi Hukum Hak Atas Tanah Individual Memitigasi Sengketa di Kelurahan Lumpue Parepare
##plugins.themes.bootstrap3.article.sidebar##
Published:
Jan 7, 2026
Keywords:
land disputes, mediation, land office, overlapping land ownership
Section
Articles
Statistics Article
Article View : 107 Times
##plugins.themes.bootstrap3.article.main##
Mutiah Wenda Juniar
Universitas Hasanuddin
A. Suci Wahyuni
Universitas Hasanuddin
Andi Muhammad Aswin Anas
Universitas Hasanuddin
Ismail Iskandar
Universitas Hasanuddin
Arini Nur Annisa
Universitas Hasanuddin
A. Farina Aura Aulya
Universitas Hasanuddin
Dyandra Rayyani Hendra Putri
Universitas Hasanuddin
Abdi Ardiansyah
Universitas Hasanuddin
Tiara Karmen Visya Lagoan
Universitas Hasanuddin
Andi Besse Alfiyah
Universitas Hasanuddin
Abstract
Land rights are part of human rights guaranteed by the constitution as stipulated in Article 28H paragraph (4) of the 1945 Constitution. However, practice in the field shows that many people still face land disputes due to weak administration and a lack of legal understanding. In the Lumpue sub-district of Pare-Pare city, there were overlapping claims of land ownership and transfers of land rights under the table without involving a notary. This community service activity was aimed at providing legal education in the form of interactive and participatory discussions on the theme of Land Rights as Human Rights: Mitigating Land Disputes. The activity was carried out in three stages: a pretest, legal counseling, and a post-test. The counseling and discussion activities were held at the Lumpue Village Office in Pare-Pare City and were attended by community members, village office officials, and resource persons from the Pare-Pare City Land Office as well as academics with expertise in land law. The land issues faced by the community are diverse, such as transfer of rights without going through a PPAT (Land Deed Official), lack of land title certificates, boundary disputes, land measurement, land use taxes, and land use in coastal areas. This program successfully built legal awareness and strengthened the community's capacity to avoid land disputes and conflicts. The handling of disputes through the district/city land office needs to synergize with the local government, especially at the village and sub-district levels, so that the resolution of disputes experienced by the community can be optimized
##plugins.themes.bootstrap3.article.details##
How to Cite
Juniar, M. W., A. Suci Wahyuni, Andi Muhammad Aswin Anas, Ismail Iskandar, Arini Nur Annisa, A. Farina Aura Aulya, Dyandra Rayyani Hendra Putri, Abdi Ardiansyah, Tiara Karmen Visya Lagoan, & Andi Besse Alfiyah. (2026). Edukasi Hukum Hak Atas Tanah Individual Memitigasi Sengketa di Kelurahan Lumpue Parepare. Jurnal Masyarakat Indonesia (Jumas), 4(03), 432–443. https://doi.org/10.54209/jumas.v4i03.333
References
A. Rahman, W. Wahyuningsih, S. Andriyani, and D. A. M. Ade, “Upaya preventif terjadinya sengketa penguasaan tanah,” Jurnal Risalah Kenotariatan, vol. 6, no. 1, pp. 228–237, 2025.
Isnaini and A. A. Lubis, Hukum Agrari: Kajian Komprehensif. CV Pustaka Prima, 2022.
L. A. Rahman and A. R. Husein, “Analisis peran pemerintah daerah dalam menangani sengketa agraria,” AnalisisperanpemerI, vol. 3, no. 5, pp. 47–58, 2023.
M. A. Amaliyah, M. A. Ma’ruf, N. Sary, and S. G. Bitu, “Reforma agraria dan penanganan sengketa tanah,” Hermeneutika, vol. 5, no. 1, 2021.
M. A. K. Putri, R. P. Murtikusuma, Y. Setiawan, M. Hidayat, dan Maulidi, “Konflik Agraria dan Ketimpangan Penguasaan Lahan: Kajian Yuridis terhadap Tanggung Jawab Negara dalam Menjamin Hak Konstitusional Warga Negara atas Tanah,” Yurisdiksi: Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora, vol. 1, no. 1, pp. 10–19, 2025.
Kartika, D. (2022). Kepemilikan Tanah dan Konflik Struktural di Wilayah Perkebunan Sawit. Jurnal Agraria dan Masyarakat Adat, 12(1), 45–63.
Syarifudin, R. (2021). Kebijakan Agraria di Indonesia: Antara Fragmentasi Regulasi dan Ketimpangan Kewenangan. Jurnal Hukum dan Kebijakan Agraria, 8(2), 89–105.
Adnan, M. (2019). Reforma Agraria: Implementasi dan Tantangannya di Indonesia,” Jurnal Hukum dan Pembangunan, 49(1), 33–50.
Muthmainnah MS, Hartono Hamzah, Ichsanullah, dan Asrul Hidayat, “Penyuluhan Hukum tentang Status Hukum Kepemilikan Hak Atas Tanah di Kecamatan Bacukiki Kota Parepare,” Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 5, no. 1, hlm. 127–131, 2025.
N. H. Prasetya, F. Zuffran, and F. S. Murtada, “Analisis konflik agraria di Kalimantan Timur: Studi kasus sengketa lahan antara masyarakat adat dan perusahaan tambang,” Media Hukum Indonesia (MHI), vol. 2, no. 2, pp. 686–692, 2024.
P. D. Dewantara, M. Roesli, and B. Nugroho, “Implikasi hukum peralihan hak atas tanah tanpa akta pejabat pembuat akta tanah (PPAT),” J-CEKI: Jurnal Cendekia Ilmiah, vol. 4, no. 6, pp. 1604–1611, 2025.
Bastian, T. (2021). Ketimpangan Penguasaan Tanah dalam Konteks Globalisasi dan Kapitalisme. Jurnal Ekonomi dan Sosial, 28(2), 105-121.
Fauzi, R., & Prabowo, S. (2022). Pengaruh Ketimpangan Agraria terhadap Konflik Sosial di Pedesaan Indonesia. Jurnal Sosial dan Pembangunan, 19(3), 198-215.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
Isnaini and A. A. Lubis, Hukum Agrari: Kajian Komprehensif. CV Pustaka Prima, 2022.
L. A. Rahman and A. R. Husein, “Analisis peran pemerintah daerah dalam menangani sengketa agraria,” AnalisisperanpemerI, vol. 3, no. 5, pp. 47–58, 2023.
M. A. Amaliyah, M. A. Ma’ruf, N. Sary, and S. G. Bitu, “Reforma agraria dan penanganan sengketa tanah,” Hermeneutika, vol. 5, no. 1, 2021.
M. A. K. Putri, R. P. Murtikusuma, Y. Setiawan, M. Hidayat, dan Maulidi, “Konflik Agraria dan Ketimpangan Penguasaan Lahan: Kajian Yuridis terhadap Tanggung Jawab Negara dalam Menjamin Hak Konstitusional Warga Negara atas Tanah,” Yurisdiksi: Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora, vol. 1, no. 1, pp. 10–19, 2025.
Kartika, D. (2022). Kepemilikan Tanah dan Konflik Struktural di Wilayah Perkebunan Sawit. Jurnal Agraria dan Masyarakat Adat, 12(1), 45–63.
Syarifudin, R. (2021). Kebijakan Agraria di Indonesia: Antara Fragmentasi Regulasi dan Ketimpangan Kewenangan. Jurnal Hukum dan Kebijakan Agraria, 8(2), 89–105.
Adnan, M. (2019). Reforma Agraria: Implementasi dan Tantangannya di Indonesia,” Jurnal Hukum dan Pembangunan, 49(1), 33–50.
Muthmainnah MS, Hartono Hamzah, Ichsanullah, dan Asrul Hidayat, “Penyuluhan Hukum tentang Status Hukum Kepemilikan Hak Atas Tanah di Kecamatan Bacukiki Kota Parepare,” Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 5, no. 1, hlm. 127–131, 2025.
N. H. Prasetya, F. Zuffran, and F. S. Murtada, “Analisis konflik agraria di Kalimantan Timur: Studi kasus sengketa lahan antara masyarakat adat dan perusahaan tambang,” Media Hukum Indonesia (MHI), vol. 2, no. 2, pp. 686–692, 2024.
P. D. Dewantara, M. Roesli, and B. Nugroho, “Implikasi hukum peralihan hak atas tanah tanpa akta pejabat pembuat akta tanah (PPAT),” J-CEKI: Jurnal Cendekia Ilmiah, vol. 4, no. 6, pp. 1604–1611, 2025.
Bastian, T. (2021). Ketimpangan Penguasaan Tanah dalam Konteks Globalisasi dan Kapitalisme. Jurnal Ekonomi dan Sosial, 28(2), 105-121.
Fauzi, R., & Prabowo, S. (2022). Pengaruh Ketimpangan Agraria terhadap Konflik Sosial di Pedesaan Indonesia. Jurnal Sosial dan Pembangunan, 19(3), 198-215.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.