##plugins.themes.bootstrap3.article.main##

Helmi Wardah Nasution

Abstract

Every human being has the same obligations and rights, but in reality there are changesin equality of obligations and rights between women and men. Most of the time the differences are visibleThe real difference between women and men is in societies that adhere to a patriarchal culture, including the stateIndonesia. In a patriarchal society, women are in a powerless position because they are lackingthere is no opportunity for women to make decisions in their lives, including taking decisionsdecisions regarding him.Apart from the less favorable role of women in making decisions to becomefamily planning acceptors, women's powerlessness in the family can also be seen from the difficulty of women doing itactivities outside the family. So there is a need for activities that can reduce inequality between womenboth in the family and society. The KB (Family Planning) program can be used as one of the programswhich is expected to increase women's empowerment. Based on the background above, formulaThe problem in this service is "empowering women who accept family planning to improve health,optimal quality of life and role

##plugins.themes.bootstrap3.article.details##

How to Cite
Nasution, H. W. (2022). Pemberdayaan PUS Untuk Menjadi Akseptor KB Aktif Guna Menciptakan Keluarga Yang Berkualitas di Desa Sirambas Kecamatan Panyabungan Barat Kabupaten Mandailing Natal. Jurnal Masyarakat Indonesia (Jumas), 1(02), 135–138. https://doi.org/10.54209/jumas.v1i02.104
References
[1.] Aditya, P., Setyaki, B., Ghifari, M., & Farqan, A. (2021). NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 8(3), 427–435.
[2.] Afni, R., dkk (2014). Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ibu Bersalin dan Bayi Baru lahir. Yogyakarta: Nuha Medika. Ambarwati, R. (2015).
[3.] Asuhan kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. Anggraini, Y. (2010).
[4.] Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta: Pustaka Rihama. Ardhiyanti. (2015).
[5.] Panduan Lengkap Keterampilan Dasar Kebidanan II. Yogyakarta: Deepublish. Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Boyle. (2010).
[6.] Pemulihan luka. Jakarta: EGC. Chandranita, I. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
[7.] Darmawati. Sastra, I. (2012). Hubungan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Dengan Lama Penyembuhan Luka Perineum Ibu Nifas. Idea Nursing Journal Vol. II No. 3 Dinkes DIY. (2016).
[8.] Profil Kesehatan Tahun 2016 Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Dinkes DIY. Depkes RI. (2010). Angka Kematian Ibu. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Ibu. Eka Mardiana Afrilia1, Sari H. (2017). Hubungan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Luka Perineum Dengan Proses Penyembuhan Luka Ruptur Perineum Di Puskesmas Pakuhaji Kabupaten Tangerang. Jurnal INDONESIAN MIDWIFERY JOURNAL
[9.] Erna R, Tyas T,.N. (2015) Hubungan Pemenuhan Gizi Ibu Nifas Dengan Pemulihan Luka Perineum.Jurnal Wiyata, Vol. 2 No. 1
[10.] Haris P.A., Isti H.A. (2011)Hubungan Pengetahuan Teknik Perawatan Dengan Kesembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas Di Bps Kota Semarang. Dinamika Kebidanan vol. 1. No.2.
[11.] Herawati, Puspita. (2017) Hubungan perawatan perineum dengan sesembuhan luka perineum pada ibu hari keenam di bidan praktik swasta (BPS) Ny. Sri Suhersi Mojokerto Kadawung Sragen.Skripsi Universitas Sebelas Maret Surakarta
[12.] Jaelani, A. K., Putri, M., & Lubis, N. A. (2016). Hubungan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Makanan Gizi Seimbang dengan Penyembuhan Luka Perineum di wilayah Kerja Puskesmas Sipayung Indragiri Hulu. Jurnal Endurance. 2 (1).